Heart 2 Heart (2010)

Posted on 15 November 2010

2


Awalnya, saya pikir ini adalah sekuel film Heart. Tapi ternyata bukan, film ini tidak dibaca Heart 2, melainkan Heart 2 Heart. Gak sedikit loh yang menyangka bahwa film ini adalah sekuel Heart, terlebih dengan keterlibatan Melly Goeslaw dalam departemen musik -di mana sebelumnya ia berhasil membesut musik di film Heart. Anyway, lupakan soal Heart. Err mungkin, ingat sedikit soal Heart karena di sini ada nuansa film Heart yang juga ikut nyangkut di film ini. Mulai dari pemandangan indah danau, jejeran kebun teh, serta tokoh penyakitan yang sebelumnya sudah ada di film Heart.

Dari segi cerita, film ini tidak bisa mengikat penontonnya.
Nama Titien Wattimena yang -harusnya- bisa menghadirkan kisah yang ciamik (seperti biasanya) ternyata tidak membuat cerita film ini enak untuk dinikmati. Duetnya dengan Erry Sofid -yang entah mengapa namanya hanya ada di credit title, tapi tidak ada di poster- boleh dibilang gagal membuat sebuah drama yang kuat. Romantisme itu tidak terasa. Ketragisan cerita hanya ada di permukaan, tidak bisa menyentuh hati. Dan pergerakan cerita -tambalan konflik lain- disisipkan dengan cara yang kurang enak, yang akhirnya membuat romansa antara Indah dan Pandu sempat ‘menghilang’ sejenak sebelum akhirnya kembali menanjak.

Tidak hanya lemah di segi cerita. Film ini juga kedodoran di deretan pemain. Nama Aliff Alli, remaja dari negeri jiran yang kebetulan merupakan adik Miller (Cintapuccino), boleh dibilang ‘merusak’ nuansa pedih film ini. Gimana bisa sedih kalo tiap kali dengar dia ngomong malah berasa kayak nonton Upin – Ipin? Terlebih dengan penggambaran karakter Pandu yang (katanya) lahir dan besar di Puncak, punya Bapak – Ibu yang Indonesia banget, tapi kok logatnya Malaysia? Irish Bella cukup berhasil memainkan perannya, meski ‘panasnya lama’ dan sempat membosankan di awal, menjelang akhir Irish Bella cukup bisa menunjukkan kemampuan aktingnya. Arumi Bachsin yang disebut sebagai ‘penampilan spesial’ nyatanya tidak menampilkan akting yang spesial.

Nayato Fio Nuala konsisten menghadirkan gambar-gambar yang ‘Nayato banget’
Cantik, gelap, sensual tapi juga membosankan. Belasan filmnya di tahun ini dengan sudut pengambilan gambar yang begitu-begitu saja jelas lah membuat penonton bosan (meski harus diakui di beberapa sisi ia berhasil membuat penonton dimanjakan dengan sudut pengambilan gambar yang cantik). Sejujurnya saya rindu dengan karya Nayato yang seperti dulu. Seperti Butterfly yang gelap, dalam dan membekas. Seperti Cinta Pertama yang ringan, manis dan menyentuh. Kini Nayato hanya menghadirkan drama numpang lewat yang sama sekali tidak berkesan. Sayang sekali..

1.5/5

Jenis Film : Drama
Sutradara : Nayato Fio Nuala
Penulis : Titien Wattimena, Erry Sofid
Pemain : Aliff Alli, Irish Bella, Arumi Bachsin, Wulan Guritno, George Taka, Argatama Levy, Indah Permatasari, Miradz
Produser : Chand Parwez Servia
Produksi : Kharisma Starvision Plus

About these ads
Posted in: Resensi