[Resensi] Pupus (2011)

Posted on 27 May 2011

0


Cindy (Donita) datang dari Lampung untuk kuliah di Jakarta, tepatnya di Universitas Trisakti dan mengambil jurusan arsitektur. Pada masa orientasi, Eros (Ichsan Akbar) dan Sinta, seniornya meminta Cindy -yang hari itu berulangtahun- untuk membawa satu senior cowok yang kebetulan juga tengah merayakan hari jadi. Senior itu bernama Pandji (Marcell Chandrawinata), seseorang yang tidak menyukai perayaan ulang tahun. Cindy menyukai Pandji. Di satu sisi Pandji juga menyukai Cindy. Di sisi yang lain lagi ada senior bernama Hugo (Arthur Brotolaras) yang juga menaruh perhatian pada Cindy. Kisah bergulir. Cerita Cindy dan Pandji menjadi kian rumit. Cindy benar-benar jatuh hati pada Pandji, namun lelaki itu benar-benar menguji kesabarannya, menguji cintanya.

Setelah sekian lama memproduksi film horor -dengan bumbu perempuan seksi dan sensasi kedatangan bintang film porno- Maxima Pictures kembali menghadirkan film drama percintaan bertajuk Pupus yang disutradarai oleh Rizal Mantovani -yang sebelumnya menyutradarai film Jenglot Pantai Selatan. Ini bukan film drama romantis pertama Rizal Mantovani bersama Maxima Pictures, sebelumnya Rizal pernah menyutradarai Ada Kamu Aku Ada yang dibintangi Bunga Citra Lestari dan Andhika Pratama di tahun 2008.

Dilihat dari segi cerita, film ini menawarkan kisah yang sangat sederhana. Dua orang, saling suka, sulit bersatu. Cindy sangat menginginkan Pandji, tetapi lelaki itu seringkali menghilang dan tidak memberi kejelasan. Durasi sepanjang 99 menit memaparkan kisah Cindy dan Pandji dalam waktu lima tahun. Banyak hal terjadi. Banyak lompatan. Banyak pergerakan. Tetapi semuanya tidak mampu membuat penonton ikut tergerak.

Penonton tidak terikat secara emosi karena cerita film ini tidak dipaparkan dengan cara yang enak. Ada bolong di sana – sini. Ada detil yang tidak jelas. Ada twist yang berusaha disampaikan namun pada kenyataannya tidak terlalu berhasil. Cerita bergerak terlalu cepat. Lompatan cerita terkadang terlalu jauh. Pergerakannya tidak dinamis, tetapi drastis. Hal ini diperparah dengan editing yang membuat cerita menjadi semakin terasa tidak nyambung dan lompat kesana kemari.

Dari segi visual, film ini cukup cantik. Nuansa Korea terlihat sekali di sini. Mulai dari set, artistik, bahkan hingga karakterisasi yang dibuat (terlalu) komikal dan juga (terlalu) melankolis. Tone warna film ini di beberapa bagian terasa terlalu menyilaukan mata, terlalu terang dan kurang ‘hangat’. Boleh dibilang film ini cenderung irit set karena cerita hanya terjadi disitu-situ saja, perubahan waktu selama lima tahun pun tidak tergambarkan dengan jelas -baik dari segi perubahan suasana, maupun penampilan karakter. Lima tahun yang panjang dengan detil yang tidak diperhatikan. Universitas Trisakti menjadi setting utama karena kabarnya executive producer film ini berasal dari uni tersebut.

Sebelumnya Maxima Pictures pernah menghadirkan kisah drama percintaan lewat film Cinta Pertama (2006) dan The Butterfly (2007) yang berhasil menghadirkan drama yang cantik, tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga dari pergerakan cerita yang terasa halus. Pupus tidak berhasil melakukan itu. Film ini terkesan ‘ala kadarnya’ dan tidak rapih.

Donita dan Marcell Chandrawinata sebagai pemeran utama boleh dibilang cukup berhasil memainkan perannya dan menghadirkan suasana Korea yang berusaha dibangun. Keduanya tidak istimewa, tetapi juga tidak buruk. Tapi yang patut dicatat adalah bahwa chemistry antara Donita dan Marcell Chandrawinata tidak terbangun dengan baik, padahal keduanya adalah kunci film ini. Pemeran pendukung pun tidak berhasil membangun film ini menjadi lebih istimewa.

Pupus adalah film yang memupuskan harapan penonton yang ingin kembali mendapat tontonan drama percintaan yang cantik dari Maxima Pictures.

Harus hati-hati sama cowok Jakarta karena banyak yang tukang tipu -Cindy

Percuma kalo masuk sesuatu tapi hati kamu gak disitu -Pandji

Kamu satu-satunya cowok yang bisa bikin aku ngerasa nyaman -Cindy

Apapun yang kamu mau, kamu harus kejar cita-cita kamu, kamu harus berjuang keras untuk dapetin apapun yang kamu mau -Pandji

Kita ciuman, mestinya kita pacaran kan? -Cindy

Cinta bisa membuat siapapun jadi tolol -Eros

Produksi: Maxima Pictures
Produser: Ody Mulya Hidayat
Sutradara: Rizal Mantovani
Penulis: Alim Sudio
Pemain: Donita, Marcell Chandrawinata, Kaditha Ayu, Ichsan Akbar, Arthur Brotolaras.

Posted in: Kutipan, Resensi