[Review] I Know What You Did On Facebook [2010]

Posted on 6 July 2010

1


Fenomena Facebook memang gila.
Portal pertemanan paling hits sedunia ini memang merupakan ‘pelarian’ menyenangkan bagi sebagian besar orang untuk menghibur diri, mengisi waktu luang, mencari teman -baik lama maupun baru-, atau sekedar ikut membuat akun demi label gaul untuk mengikuti tren.

Awi Suryadi dan Alberthiene Endah sebagai penulis mengangkat fenomena tersebut dan menuliskannya dalam skenario film berjudul I Know What You Did On Facebook. Sebuah kisah dimana Facebook menjadi sarana bermain dua pasangan muda, sarana menyatukan dua hati pria dan sebagai sarana pelampiasan istri yang kesepian karena suaminya yang cuek.

Cerita film ini berawal dari kegelisahan dua orang perempuan bernama Luna (Fanny Fabriana) dan Via (Kimmy Jayanti) yang merasa bosan dengan pasangan mereka masing-masing. Luna merasa lelah menghadapi sikap Reno (Edo Borne) yang cenderung cuek, santai, impulsif dan menurutnya gak pernah bisa serius menghadapi hidup. Dan Via merasa gerah luar biasa dengan perhatian Hedi (Fikri Ramdhan) yang terlalu ribet, terlalu perhatian, terlalu gampang ditebak dan terlalu membosankan. Via menyarankan Luna untuk ikut dalam sebuah permainan yang akan dilangsungkan via Facebook. Mereka harus menghapus akun pacar mereka sendiri. Kemudian saling bertukar pasangan. Luna dengan Hedi. Dan Via bersama Hedi. Luna menjalani ini murni sebagai permainan seru-seruan. Namun Via menanggapinya dengan berbeda, ia terlibat permainan yang terlalu jauh. Disisi lain ada Doni (Agastya Kandau), kakak Reno, yang menyukai Erik (Yama Carlos) namun hanya berani menyimpan perasaannya dan justru mengakui orientasi seksualnya di Facebook. Ada juga Merlinne (Imelda Therinne) yang mencari sedikit hiburan di Facebook untuk mengusir sepi-nya lantaran Ario (Restu Sinaga), suaminya yang sangat cuek dan terlalu sibuk kerja.

Semua kisah berawal di Facebook dan berakhir di Facebook.
Di film ini, Facebook memang memegang peranan yang sangat baik. Banyak sekali scene yang digambarkan melalui wall to wall atau chatting di portal pertemanan itu sebagai bagian dari keutuhan cerita. Sesuatu yang cukup menarik, namun pada akhirnya cenderung membuat penonton lelah karena terus menerus disodori tulisan -di wall to wall, update status dan chatting- dan harus membacanya demi bisa mengikuti jalinan cerita film ini.

Ide awal permainan di Facebook sebenarnya cukup menarik.
Namun proses permainan ini cenderung terlalu cepat dan menurut saya cenderung aneh dimana digambarkan para karakternya berasal dari kalangan atas namun masih mencari hiburan ‘kecil-kecilan’ di Facebook, terlebih dengan pilihan kalimat yang cenderung nyerempet ke bahasa anak ‘gaul’ jaman sekarang (baca : al*y). Saya merasa ada yang tidak sesuai dengan penggambaran karakternya yang terasa ‘tidak pas’ dengan permainan yang mereka lakukan di dunia maya. Seorang wanita karier, anak nongkrong yang cuek, perempuan independen, istri seorang pebisnis sukses, dua orang yang bekerja di advertising mencari hiburan via Facebook? Bisa saja sih, cuma kok agak gimanaaaa gitu.

Selain itu, dua kisah tentang kakak masing-masing tokoh utama (Marlenne & Doni) kok jatohnya terasa seperti tempelan semata ya? Beruntung bagian Doni – Erik cukup berhasil mengundang tawa, namun tidak dengan bagian Marlenne – Ario yang tidak terlalu berpengaruh dalam kesinambungan cerita dan (sangat mungkin) untuk dibuang. Kisah Luna – Reno – Via – Hedi pun pada akhirnya menjadi tidak seimbang karena porsi cerita terlalu berpihak pada Via – Reno – Luna, dimana tokoh Hedi mendadak tidak eksis dan berakhir tidak jelas. Sama seperti berakhirnya kisah ini yang cenderung kurang ‘nendang’ dan terasa biasa aja, penyelesaiannya kurang ‘nonjok’

Dari jejeran pemain, pujian terbesar layak diberikan pada Kimmy Jayanti yang berhasil melakukan debut akting dengan gemilang. Kimmy berhasil memainkan perannya dengan apik dan meyakinkan. Edo Borne berakting cukup baik, namun di beberapa bagian masih terlihat kurang total, ditambah lagi dengan chemistry-nya dengan Fanny Fabriana yang nampak kurang dan ‘bolong’, tidak seperti kedekatannya dengan Kimmy yang terlihat lebih klop. Fanny Fabriana nampak sangat manis dan mempesona di film ini, sayangnya aktingnya masih terasa sama seperti aktingnya di Hari Untuk Amanda ataupun Sehidup (Tak) Semati, malah menurut saya masih jauh lebih berjiwa aktingnya di HUA dibandingkan di film ini. Pemain lain cenderung dalam garis aman, tidak bagus-bagus banget, namun juga tidak buruk.

IKWYDOF menghadirkan gambar yang cantik, tata artistik yang cukup menawan -suka banget dengan set yang mengambil tempat di restoran Kemiri Pejaten Village, asli itu view-nya cantik banget! Awi Suryadi juga sedikit bereksplorasi dalam mengambil gambar -scene Reno & Luna bertengkar- dimana ia cukup berhasil membuat penonton terkesan dengan sedikit eksplorasinya itu.

Sebuah komedi yang di beberapa bagian berhasil menghadirkan tawa penonton. Sebuah drama yang dramatisasinya masih terasa kurang menggigit. Sebuah film yang mempertontonkan aksi brutal Fanny Fabriana dan Kimmy Jayanti. Sebuah hiburan yang datang dari karakter Doni dan Erik. Cukup menarik untuk disimak.

2.5/5

Jenis Film : Drama Komedi
Sutradara : Awi Suryadi
Penulis : Awi Suryadi, Alberthiene Endah
Pemain : Fanny Fabriana, Edo Borne, Kimmy Jayanti, Agastya Kandau, Yama Carlos, Imelda Therinne, Fikri Ramdhan, Restu Sinaga.
Produser : Shankar Rs B.sc
Produksi : Digital Film Maker & Sisterbros Nationtainment

Posted in: Uncategorized