Khalifah [2011]

Posted on 3 January 2011

1


Namanya Khalifah (Marsha Timothy), empat tahun lalu ia lulus SMA, ia sudah diterima di Universitas Indonesia namun tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di salon sebagai seorang kapster. Khalifah tinggal bersama Ayahnya (Brohisman) yang seorang marbot musholla dan adiknya (Yoga Pratama) yang masih duduk di bangku SMA.

Hidup tidak mudah buat keluarga Khalifah. Membayar kontrakan, persiapan biaya kuliah adik dan biaya hidup yang mahal membuat Khalifah merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Seorang lelaki bernama Rasyid (Indra Herlambang) yang merupakan keponakan teman ayah menjadi salah satu opsi untuk memperbaiki hidup. Akhirnya, demi kebahagiaan Ayah dan adiknya, Khalifah pun menikah dengan Rasyid.

Setelah menikah, Khalifah dan Rasyid tinggal di sebuah kontrakkan yang letaknya masih satu wilayah dengan rumah Ayah. Rasyid adalah pedagang yang menerima pasokan barang-barang dari Arab Saudi, dan karena pekerjaan itu ia sangat jarang berada di rumah. Di sisi lain, di seberang kontrakkan Khalifah, ada pria bernama Yoga (Ben Joshua), seorang penjahit yang menaruh perhatian pada Khalifah.

Sebagai seorang muslim, Rasyid memilih aliran yang cukup ‘keras’, dan perlahan tapi pasti Khalifah mulai mengikuti suaminya itu. Awalnya Khalifah menutup aurat dengan kerudung, namun setelah kandungannya keguguran -dimana Rasyid menganggap hal itu adalah teguran dari Allah- Khalifah menuruti permintaan Rasyid yang memintanya untuk menutup aurat dengan mengenakan baju kurung dan cadar.

Setelah mengenakan cadar, hidup Khalifah tak lagi sama. Benturan, cacian dan cibiran senantiasa menghampirinya. Khalifah berupaya tegar dan melanjutkan niatnya untuk berbakti pada suami dengan terus memakai cadar, sampai pada suatu hari rahasia mengenai suaminya terbongkar.

Apa yang diinginkan Khalifah?
Di awal film, Khalifah ingin membahagiakan Ayah dan Adiknya. Dan untuk mendapatkan kebahagiaan itu ia pun memutuskan untuk menikah dengan Rasyid, seorang lelaki asing yang -katanya- mapan dan -ia pikir- akan bisa membahagiakan dirinya, juga Ayah dan adiknya. Uang Rasyid memang menyelamatkan hidup Khalifah, walau sedikit ia dapat membantu Ayah dan adiknya, namun harus diakui, dilihat dari sisi lain, pernikahannya dengan Rasyid menjebloskan Khalifah ke lubang persoalan baru yang membuat hidupnya kian rumit.

Film ini berjalan lambat.
Perkenalan, pernikahan, penyesuaian dan perubahan yang terjadi pada Khalifah berlangsung dengan cepat, namun diceritakan dengan sangat lambat. Perlahan, hati-hati dan membosankan. Film ini bukan jenis film yang berhasil mengikat emosi penonton dan membuat penonton betah di kursinya, Khalifah membuat saya gelisah dan terus menerus bergerak dengan tidak tenang karena menahan bosan.

Selain karena cerita yang ‘kabur-kaburan’ dan dipaparkan dengan lambat, set cerita yang disitu-situ saja semakin memperparah keadaan. Kontrakkan, musholla, salon, halte, jalan. Itu adalah lima wilayah ‘jajahan’ Khalifah yang sangat diekspos film ini. Tidak ada panorama indah. Tidak ada visualisasi yang memanjakan mata. Sudah beberapa film yang menyorot warga kelas menengah ke bawah di Jakarta dan berhasil menghadirkan visualisasi kesederhanaan yang memikat mata. Dalam Khalifah, kesederhanaan tersebut divisualisaskan dengan sangat sederhana, tanpa pesona.

Marsha Timothy adalah ratu film ini. Nyaris di semua scene, ia menampakkan dirinya. Sebagai aktris yang mendapat jatah tampil paling banyak, Marsha berhasil memukau lewat kecantikan fisiknya yang menawan, tapi tidak dengan aktingnya yang -menurut saya- biasa saja, bahkan terasa lebih menyenangkan menontonnya di film Pintu Terlarang dibandingkan di film ini. Indra Herlambang meninggalkan karakternya yang ‘happy joy-joy’ dan cukup berhasil memainkan Rasyid yang ‘keras’, sayang porsi peran yang tidak terlalu banyak membuat karakter ini tidak mencuat. Ben Joshua, Jajang C. Noer, Yoga Pratama dan Titi Sjuman seakan menjadi pajangan di film ini, -sekali lagi- karena porsi peran yang tidak besar dan karakter yang kurang tergali, mereka seakan cuma numpang lewat.

Di 3 Doa 3 Cinta, Nurman Hakim menyisipkan ‘dakwah’ agama dalam ceritanya dengan cara yang pas dan terwakili dengan baik dari karakternya. Di film ini, pesan tersebut tidak tersampaikan dengan baik karena si penyampai pesan, Khalifah, adalah perempuan yang penuh dengan kebimbangan. Khalifah mencari kebahagiaan, dan di proses pencarian itu ia diliputi kegalauan sebelum akhirnya di akhir film dirinya berkaca dan dengan mantap berkata : Namaku Khalifah.

Bukan jenis film yang menyenangkan untuk ditonton. Penceritaan dan visualisasi yang membuat penontonnya tidak betah. Beberapa karakter peran kurang tergali yang membuat aktor dan aktrisnya (nampak) sia-sia.

Jadwal Tayang : 6 Januari 2011
Jenis Film : Drama
Sutradara dan Penulis : Nurman Hakim
Pemain : Marsha Timothy, Indra Herlambang, Ben Joshua, Titi Sjuman, Yoga Pratama, Jajang C. Noer
Produser : Nan T. Achnas, Nurman Hakim, Sentot Sahid
Produksi : TrixImages & Frame Ritz

Posted in: Uncategorized