Rumah Tanpa Jendela [2011]

Posted on 24 February 2011

1


 

Ada dua anak yang memiliki kehidupan berbeda.
Seorang anak perempuan bernama Rara (Dwi Tasya), putra seorang tukang sol sepatu yang juga berjualan ikan hias bernama Raga (Raffi Ahmad). Rara tinggal bersama Ayah dan Mbok-nya (Inggrid Widjanarko) di sebuah rumah sempit yang tidak memiliki jendela. Rara tinggal di permukiman kumuh dan menghabiskan waktu dengan bekerja serabutan, belajar di sekolah singgah bersama Bu Alya (Varissa Camelia) dan terus bermimpi bahwa suatu saat ia akan memiliki rumah besar, lengkap dengan jendela yang menghiasi dindingnya.

Ada satu anak lelaki bernama Aldo (Emir Mahira) yang sedikit ‘berbeda’. Aldo yang lahir dari keluarga kaya merindukan sosok teman karena keluarganya sibuk dengan urusan masing-masing, Ayah (Aswin Fabanyo) sibuk di kantor dan Bunda (Alicia Djohar) sibuk dengan bisnis permatanya. Ada juga Adam (Ouzan Ruz), kakak pertama Aldo yang bercita-cita menjadi pemusik dan Andini (Maudy Ayunda) yang sedang pdkt dengan seorang cowok dan merasa malu dengan Aldo yang berbeda dari anak-anak lain. Kesendirian Aldo sedikit berkurang ketika Nenek (Aty Kanser) yang sebelumnya tinggal di Medan kini memilih untuk tinggal di Jakarta dan menemaninya.

Disaat hujan Rara dan Aldo bertemu. Mereka berbagi mimpi dan kehidupan. Keduanya saling berbagi pelangi dalam kehidupan mereka yang sebelumnya kelabu.

Aditya Gumay sebelumnya sukses menggarap Emak Ingin Naik Haji, sebuah drama mengharu biru yang didukung permainan apik dua pemeran utamanya: Aty Kanser dan Reza Rahadian. Kini Aditya Gumay menghadirkan film drama keluarga terbaru berjudul Rumah Tanpa Jendela, sebuah film untuk anak Indonesia.

Aditya Gumay bukan sosok yang asing dengan anak-anak. Ia adalah pendiri Sanggar Ananda dan pernah sukses menghadirkan program Lenong Bocah yang pada akhirnya berhasil menghadirkan bibit-bibit baru di dunia hiburan. Kini, di film terbarunya, Aditya Gumay kembali bercengkrama dengan dunia anak-anak lewat karakter Rara dan Aldo.

Film ini memiliki premis yang sederhana. Rara ingin memiliki rumah dengan jendela tetapi Ayahnya miskin. Aldo ingin memiliki teman tetapi keluarganya sibuk dan ia ‘berbeda’. Tanpa sengaja keduanya bertemu dan akhirnya saling melengkapi. Latar belakang Rara dan Aldo yang berbeda menghadirkan benturan-benturan. Keadaan Aldo yang berbeda juga menjadi benturan untuk Andini. Kecelakaan yang terjadi di rumah dan mengakibatkan Si Mbok masuk rumah sakit juga menghadirkan persoalan baru. Kisah terus bergulir. Rara dan Aldo menjadi semakin dekat dan menjelang akhir keduanya menjalani petualangan baru yang kian mengukuhkan persahabatan mereka.

Dari segi cerita, film ini sangat sederhana. Problematika sejenis, pergesekan antara si kaya dan si miskin sudah akrab sekali dan sudah cukup sering divisualisasikan dalam berbagai format. Yang membuat cerita tersebut hidup adalah permainan apik dari dua aktor ciliknya: Emir Mahira dan Dwi Tasya. Emir Mahira sangat mencuri perhatian, ia memang memiliki potensi besar untuk menjadi aktor hebat dan di sini ia kembali menghadirkan performa maksimal. Dwi Tasya pun demikian, walau tidak segemilang Emir, ia bisa mengimbanginya dan membangun chemisty yang menawan dengan lawan mainnya itu.

Ada sedikit hal yang cukup mengganggu Layar Besar perihal penggambaran orang kaya versi Aditya Gumay. Sudah dua film Aditya Gumay menggambarkan kehidupan si kaya dan si miskin dan sudah dua kali pula Layar Besar kurang sreg dengan penggambaran si kaya versi Aditya Gumay. Untuk penggambaran keluarga miskin, Aditya Gumay sudah berhasil memvisualisasikannya dalam takaran pas, namun untuk bagian keluarga kaya, cara yang dipakai Aditya Gumay untuk menggambarkannya masih terasa ‘sinetron’. Ibu-ibu bisnis permata, make up cukup tebal, rambut sasak sedikit tinggi dan perbincangan lalu lalang soal arisan menjadi bumbu utama. Pesta ulang tahun Andini yang seharusnya megah dan memukau justru sejak awal terasa ‘norak’ bahkan sebelum Aldo dan teman-temannya tampil di atas panggung. Mungkin ini masalah penafsiran saja, tetapi buat Layar Besar, cara Aditya Gumay menggambarkan kehidupan si kaya masih terasa sedikit mengganjal.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah gambar yang kurang cerah. Warnanya gak nonjok mata dan kurang lembut untuk dipandang, sayang sekali karena ada banyak panorama menarik yang seharusnya bisa lebih mencuri perhatian penonton jika gambar yang dihadirkan lebih cerah dan hidup. Di sisi lain, tata suara juga sedikit mengganggu. Kadangkala terasa tidak singkron antara suara yang terdengar dengan gerak bibir dan emosi yang sedang dirasakan karakternya.

Sejauh ini, Rumah Tanpa Jendela adalah salah satu film yang paling menghibur di awal tahun 2011. Meski Layar Besar mencatat beberapa kekurangan yang cukup mengganggu, namun tidak bisa dipungkiri permainan apik Emir Mahira memberi kehidupan baru pada cerita film ini dan pada akhirnya berhasil menyentuh sisi emosional penonton. Salut.

Jenis Film: Drama Keluarga.
Produksi: Pt. Smaradhana Pro dan Sanggar Ananda
Produser: Adenin Adlan, Seto Mulyadi
Sutradara: Aditya Gumay
Penulis: Aditya Gumay, Adenin Adlan
Pemain: Emir Mahira, Dwi Tasya, Aty Kanser, Maudy Ayunda, Alicia Djohar, Raffi Ahmad, Inggrid Widjanarko
Tayang: 24 Februari 2011

Posted in: Resensi