[Resensi] 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011)

Posted on 20 May 2011

0


Kartini (Jajang C. Noer) seorang ginekolog di Rumah Sakit Fatmawati. Kartini memiliki 5 orang pasien: Yanti (Happy Salma) seorang lonte yang terkena penyakit kanker mulut rahim, Rara (Tamara Tyasmara) seorang siswi SMP yang hamil karena ‘keenakan’ setelah melakukan hubungan intim pertamanya, Lily (Olga Lydia) seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Ratna (Intan Kieflie) seorang perempuan yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya setelah lima tahun menikah, Tizza Radia seorang perempuan bertubuh tambun yang nampak selalu bahagia walaupun ia sulit memiliki momongan, dan Patty Sandya seorang perempuan heboh yang terobsesi mendidik anaknya (yang jika terlahir sebagai laki-laki) untuk tidak bersikap lembek seperti suaminya. Selain itu masih ada satu sosok perempuan lain bernama Rohana (Marcella Zalianty), dokter yang baru bertugas di rumah sakit.

Tidak mudah membuat film dengan model cerita seperti ini. Sebelumnya, pernah ada Love yang boleh dibilang cukup berhasil menghadirkan kisah cinta lewat penuturan paralel. Apakah 777 berhasil melakukan hal serupa?

Cerita film ini dituturkan oleh Kartini. Cerita hadir lewat penuturan Kartini yang ingin membela kaumnya, yang ingin membantu pasien-pasiennya untuk tidak lagi terjajah. Dari aneka macam karakter pasien itu, Kartini mendapat banyak cerita, inspirasi dan motivasi. Kartini menjadi poros utama. Kartini terlalu menjadi pusat dari segalanya.

Film ini memiliki banyak tokoh. Film ini memiliki banyak cerita, banyak masalah dan tentunya harus memiliki banyak masalah. Satu cerita diisi masalah dan akhirnya terselesaikan. Wajarnya seperti itu, namun 777 belum melakukannya dalam porsi yang pas. Ada bagian yang tidak imbang. Ada penyelesaian yang belum jelas selesai. Ada ujung yang belum terpapar. Ada detil yang hilang. Tidak mudah untuk membuat semua karakter mendapat porsi yang sama. Tetapi alangkah indahnya jika porsi dibuat merata, problem dibagi adil dan penyelesaian berujung sama. Mungkin sengaja dibuat misteri, tidak dipaparkan karena akan dibuat sekuelnya?😀

Deretan pemain boleh dibilang berakting tidak mengecewakan –kecuali Marcella Zalianty (yang rasanya posisinya bisa diganti dengan aktris lain, yang lebih baik, bahkan ia tidak perlu dapat porsi sebesar itu di poster filmnya). Suami Ratna yang rasanya terlalu muda, lengkap dengan istri keduanya yang juga kurang meyakinkan-. Happy Salma, yang meraih predikat Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dari dua ajang yang berbeda lewat perannya sebagai Yanti memang berhasil menunjukan performa istimewa. Dua pendatang baru yang patut diperhitungkan adalah Tamara Tyasmara dan Albert Halim, mereka memiliki potensi untuk menjadi besar karena berhasil memainkan karakternya dengan apik.

Robby Ertanto boleh dibilang melakukan debut istimewa melalui film ini. Hadir lewat cerita mengenai perempuan yang ia dedikasikan untuk perempuan, film 777 menjadi tonggak bersejarah bagi Robby Ertanto untuk terus berkarya dan membagi ceritanya pada banyak orang. Robby Ertanto terampil mengolah kata, ada beberapa kata/dialog berkesan (anjelo, main manual, presto, dll), ada bagian yang membuat penonton tergelak, ada yang membuat penonton menahan pedih. Tetapi, entah mengapa, saya merasa ada feel yang kurang. Buat saya, film ini, ‘kurang perempuan’, saya pun laki-laki sama seperti Robby, tetapi di beberapa titik saya merasa ‘ini seharusnya bisa lebih’, ‘bisa lebih dalem’, ‘bisa lebih perempuan’. Ini hanya pendapat. Mungkin saya salah, karena sekali lagi, saya bukan perempuan, saya juga laki-laki seperti Robby. Dan mungkin penafsiran kami akan sosok perempuan juga berbeda.

777, sajian pembuka dari Robby Ertanto untuk perfilman Indonesia. Kami siap menanti sajian lain dari Anda, Mas Robby!😉

Tujuh Hati Tujuh Cinta Tujuh Wanita
Produser: Intan Kieflie
Produksi: Anak Negeri Film
Sutradara dan Penulis: Robby Ertanto Soedikasm
Pemain: Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Happy Salma, Tamara Tyasmara, Olga Lydia, Tizza Radia, Patty Sandya, Intan Kieflie, Verdi Solaiman, Hengky Solaiman

Anjelo; anter, jemput, lonte –Yanti

Lagi global warming, jadi banyak yang harus saya angetin –Yanti

Ayam kampus udah gak musim. Sekaran jamannya preto. Empuk!

Pelacur, bukan berarti melacur – Kartini

Cinta? Cinta sudah mati, Anton. Lagipula buat apa cinta kalau perempuan selalu jadi korban? – Kartini

Ketika aku merasa punya harapan untuk terus berjuang, ada saja masalah baru – Kartini

Makanya, kalo lagi horny manual aja! –Rara

Trus lo mau apa? Yang elo tau cuma ngangkang!

Setiap orang emang lebih demen liat gue tiduran dibanding kerja beneran –Yanti

Kalo cinta kan kamu usaha, kamu cari –Kartini

Posted in: Kutipan, Resensi