[Resensi]: Purple Love (2011)

Posted on 20 May 2011

0


Pasha ingin melamar Lisa (Qory Sandioriva), namun di saat bahagia yang sudah Pasha pilih, ia malah disakiti karena Lisa ternyata lebih memilih lelaki lain. Pasha depresi. Hidup Pasha mendadak kelam. Melihat itu, empat teman kerja Pasha di advertising agency, Makki, Roman, Onci, Rowman dan Enda berupaya membuat hidup Pasha kembali ceria dengan meminta bantuan Talita (Nirina Zubir), pemilik Purple Heart, tempat yang (katanya) bisa membuat orang terus berbahagia. Permainan dimulai, Talita menabrak Pasha dengan sepeda, Pasha tidak sadarkan diri, dibawa pulang ke rumah dan saat Pasha pingsan keempat kawannya memakaikan perban di kaki Pasha, memberi kesan seolah-olah Pasha patah kaki, di sisi lain, Talita yang tidak sengaja memakai cincin yang seharusnya dikenakan Lisa. Pasha marah, meminta cincin itu dikembalikan. Talita menolak dan memberi syarat cincin akan dikembalikan asalkan Pasha memberi izin ke Talita untuk merawatnya selama Pasha sakit. Persetujuan dibuat, keduanya menjadi dekat. Talita membawa keceriaan dalam hidup Pasha. Talita berhasil membuat Pasha menjadi ceria. Awalnya Talita berupaya menjodohkan Pasha dengan Shelly (Kirana Larasati), namun rencananya runyam karena secara tidak sengaja Shelly malah bertemu dengan Onci –dan akhirnya jatuh hati dengan teman Pasha itu. Bagaimana kelanjutkan kisah ini?

Setelah di awal tahun ada Baik-Baik Sayang yang menampilkan Wali, kini LayarBesar Indonesia kembali diisi sebuah band. Kali ini giliran Ungu yang bermain di film produksi Starvision Plus yang disutradarai Guntur Soeharjanto (Otomatis Romantis, Kabayan Jadi Milyuner). Membaca judulnya sudah jelas film ini masuk dalam kategori drama romantis. Melihat posternya, sudah jelas porsi film ini didominasi Pasha dan Nirina.

Sebagai film drama romantis, cerita film ini boleh dibilang cenderung berlarut-larut, sedikit bertele-tele, berputar dan terasa dipanjang-panjangkan. Ada beberapa rahasia yang diungkap di belakang (mungkin dimaksudkan sebagai twist, tetapi akhirnya cenderung memberi kesan ‘elaaaah kok gini sih’). Cerita kedekatan Pasha dan Talita yang seharusnya bisa kelar dengan gampang dipersulit dengan memutar cerita, mendramatisasi dan memasukkan twist. Awalnya, kedekatan Pasha dan Talita enak untuk diikuti, namun ketika masuk wilayah dramatisasi mengharu biru, perlahan rasa nyaman melihatnya terkikis. Porsi komedi yang hadir dari tokoh Shelly yang tergila-gila dengan Onci sangat minim, cenderung terasa seperti tempelan saja, padahal tokoh Shelly dan unsur komedi dari karakternya sukses memberikan tawa segar. Semua berpusat pada Pasha. Dan ini yang membuat cerita yang awalnya enak, perlahan tapi pasti mulai membuat tidak betah.

Bukan berarti film ini buruk. Tidak. Sebagai sebuah tontonan, Purple Love berhasil menyajikan beberapa momen manis romantis. Ada keceriaan dari kedekatan Talita dan Pasha yang sukses membuat bibir tersenyum tipis. Ada gelak tawa yang lahir dari kegilaan karakter Shelly. Ada momen sedih ketika Talita menangis di pelukan Pasha. Purple Love menyajikan semua itu, tetapi proses penuturan cerita dan porsi cerita yang bertumpu hanya kepada sosok Pasha membuat penonton cenderung bosan.

Dari deretan pemain, nama Kirana Larasati harus diberi catatan lebih. Terakhir bermain di Claudia/Jasmine, Kiki kembali ke layar lebar dengan bermain sebagai cewek lebay bernama Shelly. Meski kemunculannya hanya sedikit, tetapi Kiki dapat memainkannya dengan pas. Pasha, sebagai pemeran utama, boleh dibilang tampil konstan untuk menampilkan sosok pangeran yang lovable, aktingnya tidak buruk, tetapi tidak bisa juga dibilang istimewa. Berbicara mengenai karakter Talita, rasanya memang karakter ini diciptakan untuk Nirina, aktris yang bisa membawa nuansa ceria dan juga memiliki kemampuan untuk bermain di wilayah drama. Nirina tidak bermain buruk, ia bermain di wilayah aman, tetapi entah mengapa ia seperti telah kehilangan sinarnya. Keempat personil Ungu yang lain boleh dibilang tidak terlalu mendapat perhatian (kecuali Onci yang porsi tampilnya sedikit lebih banyak). Qory Sandioriva, Henidar Amroe, Djenar Maesa Ayu, Joshua Pandelaki, Unang bahkan sampai designer Ramli ikut memeriahkan film ini dalam durasi yang tidak lama.

Penggemar Ungu –lebih fokusnya lagi, penggemar Pasha- jelas girang menonton film ini. Sepanjang film mereka dapat mengagumi wajah Pasha, mendengarkan lagu-lagu Pasha dan melihat sisi lain dari band Ungu yang kini tampil di layar lebar. Tetapi kenyataannya, sisi lain mereka yang di sini diplot sebagai lima pekerja di advertising agency tidak tergarap dengan maksimal karena cerita (sekali lagi) terlalu berpusat pada kehidupan percintaan Pasha. Untuk yang bukan penggemar Ungu masih dapat menikmati film ini karena seperti yang tertulis di atas, film ini memiliki momen-momen khusus yang masih berhasil menghibur penontonnya.

Artistiknya menarik. Sederhana, tidak macem-macem tapi di beberapa bagian sukses menyolok mata. Tata suara film ini cenderung tidak terlalu baik, di beberapa bagian ada ketidaksesuaian gerak bibir dengan suara yang terdengar. Guntur Soeharjanto yang pernah membuat drama komedi bertajuk Otomatis Romantis boleh dibilang cukup berhasil menyutradarai film ini. Tidak istimewa, tetapi juga tidak buruk.

Purple Love
Produksi: Kharisma Starvision Plus
Produser: Chand Parwez Servia
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Penulis: Cassandra Massardi
Pemain: Pasha, Nirina Zubir, Onci, Makki, Rowman, Enda, Kirana Larasati, Qory Sandioriva, Henidar Amroe, Djenar Maesa Ayu, Joshua Pandelaki,

Posted in: Resensi