[Resensi] Pirate Brothers (2011)

Posted on 29 May 2011

1


Setelah kematian kakaknya yang dibunuh oleh kelompok preman bertatto, Sunny tinggal di panti asuhan. Di sana Sunny bertemu dengan Verdy, seorang anak yang tidak berapa lama pergi setelah ada pengusaha kaya yang mengadopsinya. Kisah bergulir ke masa 20 tahun kemudian ketika Verdy yang telah menjadi pengusaha muda tengah berlibur dengan menggunakan kapal pesiar bersama Melanie, kekasihnya. Di tengah perjalanan itu, kapal mereka diduduki oleh para bajak laut yang salah satu diantaranya adalah Sunny. Apa yang terjadi berikutnya?

Awalnya saya tidak terlalu tertarik menonton film ini. Judulnya, posternya, sinopsisnya, trailernya dan orang di belakang layarnya tidak ada yang berhasil menarik minat saya. Tetapi akhirnya saya melangkahkan kaki ke bioskop setelah beberapa orang di timeline saya berkicau bahwa film ini tidaklah seburuk itu, bahkan cenderung cukup bisa dinikmati.

Tapi nyatanya, saya tetap tidak dapat menikmati film ini.
Drama aksi memang sedang menggeliat kembali. Ada yang menjadikannya sebagai porsi utama, seperti Merantau, ada juga yang menjadikannya sebagai pelengkap seperti yang dilakukan Charles Gozali dalam film Rasa dan Demi Dewi. Pirate Brothers menjadikan aksi sebagai sajian utamanya dan karena itu saya tidak dapat menikmatinya.

Saya percaya, cerita adalah aspek paling penting dalam sebuah film. Cerita adalah kuncinya. Dan di film ini, cerita seakan tidak menjadi sesuatu yang diperhatikan dengan seksama. Twist berupaya dihadirkan, tetapi gagal mengelabui penonton karena penuturannya yang tidak terarah. Pirate Brothers terlalu sibuk menyajikan aksi baku hantam. Detil cerita hilang. Humanisme seakan tidak nampak. Pertarungan menjadi sajian utama.

Sunny dan Lelaki Bertatto lahir dan besar di lingkungan kelas bawah yang tidak berpendidikan. Sunny memang diceritakan dibawa ke luar negeri tetapi aneh sekali ketika mendapati sosoknya yang dalam semua dialog menggunakan Bahasa Inggris, tidak terkecuali ketika ia berinteraksi dengan Verdy. Saya tau, ini berkaitan dengan aktor pemeran Sunny yang berasal dari luar Indonesia -dan merupakan aktor dari film Mortal Kombat pula!, tetapi bukankah menjadi aneh ketika akhirnya proses pengenalan karakter dari masa kecil yang dituturkan secara perlahan dan cukup jelas akhirnya tidak berarti apa-apa karena ketika besar ia tumbuh menjadi orang yang sama sekali berbeda?

Akting para aktornya pun tidak berhasil menyelamatkan film ini. Tidak ada kedalaman emosi. Tidak ada sisi humanisme yang mereka pertunjukkan. Para aktornya sibuk menampilkan karakter hero tanpa memperlihatkan sisi humanisme yang membuat penonton ikut bersimpati. Ada kalanya jagoan harus kalah dulu untuk menang, tetapi di sini dua jagoan seakan diplot untuk terus menang.

Tidak ada yang berhasil mengikat saya. Baik dari segi cerita, koreografi bela diri -yang menurut saya di beberapa sisi terlalu berlebihan dan aktor yang bermain seperti jagoan-jagoan di game yang sibuk beraksi tanpa banyak berekspresi. Meski beberapa kali sempat terpukau dengan aksi bela diri dan scoring yang cukup mendukung atmosfer laga, film ini tidak membuat saya merasa dekat dan terikat.

Aku enggak terlalu mikirin apa yang akan kita lakukan asalkan aku bersama kamu.

Aku merasa kamu pelengkap dari teka-teki di dalam hidupku.

Jenis Film: Drama Aksi
Produksi: Creative Motion Pictures
Produser: Asun Mawardi, Jimmy Djulianto, Gina Maria, Keith Brinksman
Sutradara: Asun Mawardi
Penulis: Matthew Ryan Fischer
Pemain: Robin Shou, Imd Verdy Bhawanta, Marcio Fernando Da Silva, Yayuk Aw Unru, Andrew Lincoln Suleiman, Karina Nadila

Posted in: Kutipan, Resensi